Copast dari status
teman di Facebook:
Sketsa indah tentang wanita
tergambar lengkap dalam kecantikan paras, keanggunan tingkah laku, kelembutan
suara, dan kehalusan perasaannya. Pesona tersebut terangkum nyata dalam ibarat
“gelas-gelas kaca “. Tanyakanlah kepada pengepak barang itu, mengenai betapa
rapuhnya gelas yang terbuat dari kaca. Jika salah perlakuan, tentu akan pecah
berkepingan. Tak urung anggota badan pun terluka karena keping pecahannya.
Begitu juga berhadapan dengan wanita, seseorang dituntut untuk mengetahui
karakteristik dasarnya. Maka, wahai para wanita…kenalilah kelebihan dan
kekurangan alamiahmu…pertahankan kelebihan dan perbaiki kekurangan itu…
Pada kesempatan kali ini, mari kita
berbicara tentang sedikit upaya memperbaiki kekurangan alamiah wanita secara
umum.
KRISTAL dan KACA BIASA
Lihatlah
gelas jernih yang terbuat dari kaca kristal….begitu anggun, elegan, menawan dan
tentulah mahal, cocok buat “hartawan”. Jangankan menjamahnya dengan
sembarangan, menyentuhnya saja bisa jadi dilarang. Begitulah kiasan menjadi
wanita yang semestinya. Jangan menjadi “wanita murahan dan dan gampangan” dalam
arti negatif. Gampang dipandang lelaki, karena menunjukkan aurat yang
semestinya ditutup. Gampang dijamah lelaki, karena dia juga merasa biasa saja
menyentuh lelaki. Gampang digoda lelaki, karena dia memang “kecentilan”, baik
lewat suaranya, gerak-geriknya, ataupun kerlingan mata. Gampang begini…dan
gampang begitu…Kalaulah “murahan dan gampangan” dalam arti positif: murah
senyum pada sesama wanita, murah memberikan harta, gampang menerima kebenaran,
gampang diajak menuntut ilmu, gampang mengamalkan kebajikan… Alhamdulillaah,
itulah yang diharapkan.
Kaca
kristal ini juga merupakan perlambang wanita yang menjaga dirinya, dari segi
ilmu, amalan lahir dan batinnya.
-
Termasuk di dalam amalan lahir: ibadah amaliahnya, menjaga hijab syar’inya,
suaranya di hadapan ajaanib, kelakuannya di manapun dia berada dan kapanpun
waktunya.
- Termasuk di dalam amalan batin: keimanannya yang tertuang dalam berbagai wujud.
- Termasuk di dalam amalan batin: keimanannya yang tertuang dalam berbagai wujud.
POHON dan ILALANG
Jadilah
laksana pohon yang akarnya menghujam kuat ke tanah, batangnya kokoh berdiri
menjulang ke angkasa, berbuah ranum dan rindang daunnya. Pohon tersebut, tidak
akan mudah terguncang dan terombang-ambing. Lain halnya dengan ilalang, yang
mengikut dengan setia ke manapun arah angin bergoyang. Jangankan harus dibebani
buah, menopang dirinya sendiri saja ilalang ini tak mampu.
- Pohon itu merupakan gambaran dari keimanan yang kuat
mengakar dalam hati sanubarinya, lalu ditopang kokoh oleh batang ketakwaan,
yang berbuah amalan, sehingga membuat “teduh” orang yang berada di dekatnya.- Ungkapan metaforis_personifikasi pohon dan ilalang ini juga menggambarkan bahwa hendaknya setiap wanita tidak selalu memasukkan dalam hati lalu mengikuti SEMUA perkataan orang. Orang berkata A, maka hatinya bimbang dan ingin mengikuti pendapat A. Orang berkata B, hatinya guncang dan ingin mengikuti B. Akan tetapi, ikutilah perkataan yang bersumber dari orang yang diliputi keilmuan, keimanan dan ketakwaan, sehingga menghasilkan “suara” yang penuh hikmah dan kebijaksanaan. Perhatikanlah, bahwa tidak semua kata orang patut kita dengar dan masukkan dalam hati. Tidak jadi soal, untuk “mencampakkan ke lantai” perkataan orang lain yang kurang atau tidak ada faidahnya.
CUEK dan SENSI
1. Adegan Sensi:
Level sensitivitas wanita cenderung lebih tinggi daripada pria. Sensitivitas ini diwujudkan baik dalam bentuk kehalusan perasaannya sehingga begitu mudah tersinggung dan menitikkan air mata, maupun menyatakan simpati dan empati terhadap berbagai rasa….baik suka maupun duka. Tidak mengherankan, karena memang emosi wanita mudah terpancing oleh suasana. Terang saja, bahkan dengan spesifikasi khas yang dimiliki wanita, itu akan menunjang wanita mengampu amanah alamiahnya kelak sebagai zaujah, murabbiyyah, dan “ummah” [ibu] sekaligus da’iyah. Sayangnya, level sensitivitas wanita seringkali menggiringnya terjerembab dalam bencana, yang sebenarnya bisa di hindari. Ya…bencana yang tidak langsung dia buat sendiri. Seringkali kita temukan, hanya karena perasaan wanita yang mudah tersinggung, mudah sekali baginya untuk marah; mencaci; berkata kasar, dan bertindak gegabah. Fenomena ini bukan saja terjadi pada orang awam, namun merambah juga pada tataran penuntut ilmu.
Sering kita saksikan, wanita penuntut ilmu yang karena tersulut emosinya, lalu berkata atau berbuat kasar bukan? Saksikan saja diorama singkatnya dalam Facebook ini. Terlebih jika wanita sedang bertarung lewat lisan, entah berupa debat kusir atau dalam berbalas cacian. Subhaanallaah…”ramai” sekali ya?! Memang membuat miris…Na’uudzubillaahi min dzaalik.
2. Adegan Cuek
Berkebalikan dengan kejadian di atas, seringpula kita dapatkan wanita yang begitu tidak peduli pada apapun, meskipun hal itu bermanfaat baginya. Dinasihati kebaikan…hanya masuk telingakiri, keluar telinga kanan. Berbuat hal yang memalukan…asyik-asyik saja seolah bebas dari kesalahan.
Sebenarnya, kedua hal ini sama-sama mengandung kebaikan, jika ditempatkan dengan benar dan proporsional. Terlalu sensitif juga tidak baik…pun terlalu cuek juga tidak baik. Ada saatnya kita harus menajamkan kepekaan, ada kalanya pula kita harus mempertebal ketidakpedulian. Kembalikanlah itu semua pada mizan syariat. Maka, akan kita dapatkan saat yang tepat untuk menerapkan prinsip kepekaan dan ketidakpedulian.
AKAL dan PERASAAN WANITA
Memang benar, pada umumnya wanita lebih cenderung mengedepankan perasaannya, yang membuat tumpul akal dan ilmunya…meskipun dari sisi intelektual, bisa jadi dia seorang wanita yang cerdas dan cemerlang otaknya. Maka, berusahalah berlatih untuk bersikap cerdas dan tepat sasaran dalam mengelola penggunaan pikiran dan perasaan. Bawaan umum alamiah yang sebagian besar ada pada wanita ini, jika tidak diposisikan pada tempatnya, justru akan berbalik menjadi bumerang baginya.
### Bagi lelaki: Oke, wanita memang memiliki bawaan alamiah yang demikian. Akan tetapi, tidak ada HAK bagi Anda sekalian untuk mencemooh, mencibir, menyudutkan, dan berkata kasar tentang kekurangannya ini. Jangan mentang-mentang Anda ini kaum yang lebih bisa mengedepankan akal, lalu merendahkan dan menginjak-injak wanita atas kekurangannya!
Contoh minimalisnya:
- Anda punya orangtua? Siapa yang menjadi perantara “nongol”nya Anda di dunia? Ibu. Apa jenis kelaminnya? Perempuan!
- Anda punya istri? Siapa yang berkhidmat bagi Anda, mengurusi Anda dan buah hati, bahkan membantu Anda menyalurkan hasrat biologis Anda? Apa jenis kelaminnya? Perempuan!
Itu hanya secuil peran kaum wanita dalam hidup Anda. Belum lagi peran wanita dalam bentuk putri, adik, bibi, tetangga, teman, guru dan lain sebagainya. Anda membutuhkan mereka bukan? Maka jangan sekali-kali Anda rendahkan kaum wanita! Tanpa wanita…hidup Anda tidak akan lengkap jadinya.
PEMAKLUMAN TERHADAP WANITA
Ada hal-hal yang bisa ditolerir atas kebengkokan sisi manusiawi wanita….hingga kita bisa berkata atau berkilah, “Yahh namanya juga wanita…meskipun penuntut ilmu, tetap saja dia wanita biasa..sosok yang penuh alpa, tidak terbebas dari cela, dan bisa melakukan dosa.” Akan tetapi, itu bukan dalih yang setiap kesempatan dan waktu dapat dilontarkan. Jangan mentang-mentang “bengkok”, lalu wanita berlindung dengan tameng kerapuhan dan kebengkokannya ini untuk bermudah-mudahan melakukan kekeliruan!
Syariat dibuat sebagai rambu-rambu pembatas agar kebengkokan wanita tidak menjerumuskan ke dalam dosa. Maka, letakkanlah perasaan dan manusiawi tersebut pada koridor syariat.
Contoh nyatanya dalam Facebook ini saja: Di dalam suatu forum…beberapa wanita sedang berdiskusi mengenai suatu perkara. Lalu terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dan suasanapun menjadi cukup panas. “Tor..torr..torrr”, emosi negatif beraksi dan reaksi petasan lisan pun dimulai. Si A menyulut, B meradang, C menanduk, D menyruduk dan seterusnya. Ujung-ujungnya terjadilah perang urat syaraf dan kebencian di antara mereka.
Bagaimana menyikapi aksi-reaksi berupa kebencian yang “manusiawi” ini? Kembalikanlah kepada neraca syariat, tentang bagaimana mengelola benci yang thabi’i dan benci yang syar’i. Memang benar, persengketaan secara naluriah membuahkan kebencian. Akan menjadi tidak benar jika kebencian itu melenceng dari pagar syariat yang berujung pada tindakan kezhaliman. Ya akhawaat….sesungguhnya shulh (perdamaian) karena Allah itu indah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar