Selasa, 03 Maret 2015

Antara Kewajiban, Kebutuhan dan Kenikmatan








Antara Kewajiban, Kebutuhan dan Kenikmatan
Oleh: Muhaimin Iqbal

Aktivitas kita sehari-hari setidaknya dapat kita golongkan menjadi tiga tingkatan, yaitu yang berupa kewajiban, kebutuhan dan kenikmatan. Ini berlaku hampir di semua aspek kehidupan, dalam hal pakaian, makanan, maupun aspek-aspek lainnya. Dalam hal berpakaian misalnya, menutup aurat adalah kewajiban. Memakai baju hangat di musim dingin adalah kebutuhan, dan memakai baju bagus ketika hadir dalam acara tertentu adalah kenikmatan. Bagaimana aplikasinya di bidang lainnya ?
 Dalam hal makanan misalnya, makan makanan yang halal dan thoyyib adalah suatu kewajiban, banyak sekali ayat di Al-Qur’an yang berisi “…makanlah…” untuk menujukkan kewajiban ini. Tetapi selain kewajiban, makan juga menjadi kebutuhan utama manusia. Kita butuh karbohidrat dan lemak untuk memberi energi dalam aktifitas sehari-hari kita, kita butuh protein untuk pertumbuhan dan membangun kembali sel-sel yang rusak.

Diatas itu, makan juga merupakan kenikmatan – ketika kita sekali waktu ingin makan makanan yang lezat. Pada tingkat kenikmatan ini, sering orang tidak lagi peduli dengan nilai dari makanan itu sendiri. Sama-sama karbohidrat, lemak dan protein – tetapi kita bersedia membayar jauh lebih mahal demi kenikmatan ini.

Urutan kewajiban, kebutuhan dan kenikmatan ini sebenarnya juga menjadi urutan prioritas yang harus kita tempuh baik secara pribadi maupun masyarakat dan bangsa. Bila kita bisa ikuti urutan prioritas ini, maka bangsa ini mestinya tidak perlu dari waktu kewaktu diguncang oleh fuktuasi harga dan ketersediaan stok bahan pangan.

Pertama adalah menjadi kewajiban bagi para pemimpin (dan masing-masing kita adalah pemimpin di lingkup kita masing-masing), untuk memastikan semua pihak dalam lingkup kepemimpinan kita untuk bisa melaksanakan kewajiban makan makanan yang halal dan thoyyib.

Bila kewajiban ini kita laksanakan semua, maka tidak akan ada celah makanan yang haram, meragukan atau makanan yang mengandung zat-zat yang membahayakan yang menyelinap masuk di makanan kita.

Kedua menjadi kebutuhan kita semua untuk bisa makan makanan yang memenuhi unsur-unsur utama yang dibutuhkan oleh tubuh kita seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Karena menyangkut kebutuhan, maka pemenuhannya harus diupayakan secara maksimal.

Manusia dewasa rata-rata butuh protein murni sekitar 50 gram/hari misalnya, maka harus diupayakan secara maksimal agar rata-rata umat ini bisa memenuhi kebutuhan protein ini setiap harinya. Bila kebutuhan ini kurang terpenuhi, maka ada yang terganggu dari fungsi tubuh kita – seperti pertumbuhan yang terhambat dlsb.


Kebutuhan-kebutuhan ini akan bisa lebih mudah dipenuhi bila kita memahami karakter dari masing-masing jenis makanan kita. Maka memperhatikan atau mendalami makanan-makanan kita ini termasuk yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, yang dimulai dari “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS 80:24)

Sekarang coba kita perhatikan bila kita laksanakan perintah tersebut, saya petikkan awal dan akhirnya saja sebagai contoh. Awalnya ada di QS 80 : 27 yaitu tentang biji-bijian, akhirnya ada di QS 80:32 tentang binatang ternak. Untuk biji-bijian saya ambilkan contoh yang familiar dengan kita yaitu padi/beras, kedelai dan kacang tanah. Sedangkan dari ternak saya ambilkan produk utamanya yaitu daging dan susu.

Kemudian kita bedah isi makanan-makanan tersebut dari kandungan utamanya saja biar tidak terlalu njlimet, yaitu karbohidrat, protein dan lemak. Maka hasilnya akan dapat kita lihat di table berikut.


Makanan, Antara Kebutuhan dan Kenikmatan

Biji-bijian secara sempurna memenuhi unsur-unsur utama yang dibutuhkan tubuh kita baik dari sisi karbohidrat, protein maupun lemak. Sementara produk ternak berupa daging dan susu keunggulannya bukan pada sisi kebutuhan ini, tetapi dari sisi kenikmatannya.

Karena tingkatnya adalah kenikmatan yang di atas kebutuhan, maka bagi yang mampu tetap bisa saja membeli daging seharga Rp 100,000 – padahal isinya yang 70 %-nya adalah air , atau susu yang 88 % isinya adalah air ! Dalam hal pemenuhan unsur-unsur karbohidrat, protein dan lemak - daging dan susu tidak lebih baik dari kedelai yang harganya hanya 1/10 dari daging.

Dengan memahami urutan prioritas dari kewajiban, ke kebutuhan dan baru pada kenikmatan – maka swasembada pangan yang paripurna akan lebih mudah disusun. Ini bisa dilakukan baik skala individu maupun skala umat atau bangsa. Selain kebutuhan karbohidrat, protein dan lemak, tentu ada juga kebutuhan akan vitamin dan mineral.

Vitamin dan mineral ini banyak terdapat pada  buah dan sayur, dan ini tercakup dengan sangat lengkap diantara awal dan akhir dari ayat-ayat makanan yang disuruh memperhatikan tersebut di atas, tepatnya mulai QS 80:28 sampai QS 80:31.

Lebih dari urusan pakaian dan makanan, bila kita bisa mengurutkan prioritas aktifitas kita lainnya berdasarkan kewajiban, kebutuhan dan kenikmatan – insyaAllah kita akan bisa mengelola segala urusan kehidupan ini dengan cara yang sangat efektif dan penuh kenikmatan.

Dalam hal pekerjaan misalnya, ketika Anda bekerja hanya sekedar melaksanakan kewajiban dalam job description Anda – maka pekerjaan Anda tersebut akan terasa berat dan membosankan. Tetapi bila pekerjaan Anda sebagai kebutuhan, maka beban berat tersebut akan berkurang karena Anda punya selfdrive – yang mendorong Anda butuh bekerja. Bayangkan bila Anda bisa mencapai tingkat berikutnya, yaitu bekerja pada tingkat kenikmatan – maka Anda akan bisa menikmati setiap waktu Anda bekerja. Hasil karya Andapun insyaAllah akan maksimal.

Dalam beribadah khusus seperti sholat-pun demikian, selama kita masih pada taraf melaksanakan kewajiban – maka ini akan terasa sebagi beban yang berat untuk melaksanakannya – tetapi tetap harus kita laksanakan. Begitu bisa meningkat sebagai kebutuhan, maka hilanglah rasa sebagai beban itu karena seperti makanan tersebut di atas – kita butuh melaksanakan sholat – sebagai makanan bagi ruh kita.

Pada tingkatan tertentu kita bisa sholat berjam-jam ketika orang lain terlelap dalam tidurnya, dan ini tidak lagi terasa berat – karena ini berada pada tingkat kenikmatan yang diburu oleh para pencarinya. Jadi bila Anda ingin bisa menikmati kehidupan ini, mulailah dengan melaksanakan kewajiban Anda, kemudian penuhilah kebutuhan Anda dan setelah itu baru Anda bisa mengejar kenikmatan itu. InsyaAllah.








Minggu, 28 Desember 2014

Wanita: Akal dan Perasaannya





Copast dari status teman di Facebook:
Sketsa indah tentang wanita tergambar lengkap dalam kecantikan paras, keanggunan tingkah laku, kelembutan suara, dan kehalusan perasaannya. Pesona tersebut terangkum nyata dalam ibarat “gelas-gelas kaca “. Tanyakanlah kepada pengepak barang itu, mengenai betapa rapuhnya gelas yang terbuat dari kaca. Jika salah perlakuan, tentu akan pecah berkepingan. Tak urung anggota badan pun terluka karena keping pecahannya. Begitu juga berhadapan dengan wanita, seseorang dituntut untuk mengetahui karakteristik dasarnya. Maka, wahai para wanita…kenalilah kelebihan dan kekurangan alamiahmu…pertahankan kelebihan dan perbaiki kekurangan itu…
Pada kesempatan kali ini, mari kita berbicara tentang sedikit upaya memperbaiki kekurangan alamiah wanita secara umum.

KRISTAL dan KACA BIASA
Lihatlah gelas jernih yang terbuat dari kaca kristal….begitu anggun, elegan, menawan dan tentulah mahal, cocok buat “hartawan”. Jangankan menjamahnya dengan sembarangan, menyentuhnya saja bisa jadi dilarang. Begitulah kiasan menjadi wanita yang semestinya. Jangan menjadi “wanita murahan dan dan gampangan” dalam arti negatif. Gampang dipandang lelaki, karena menunjukkan aurat yang semestinya ditutup. Gampang dijamah lelaki, karena dia juga merasa biasa saja menyentuh lelaki. Gampang digoda lelaki, karena dia memang “kecentilan”, baik lewat suaranya, gerak-geriknya, ataupun kerlingan mata. Gampang begini…dan gampang begitu…Kalaulah “murahan dan gampangan” dalam arti positif: murah senyum pada sesama wanita, murah memberikan harta, gampang menerima kebenaran, gampang diajak menuntut ilmu, gampang mengamalkan kebajikan… Alhamdulillaah, itulah yang diharapkan.
Kaca kristal ini juga merupakan perlambang wanita yang menjaga dirinya, dari segi ilmu, amalan lahir dan batinnya.
- Termasuk di dalam amalan lahir: ibadah amaliahnya, menjaga hijab syar’inya, suaranya di hadapan ajaanib, kelakuannya di manapun dia berada dan kapanpun waktunya.
- Termasuk di dalam amalan batin: keimanannya yang tertuang dalam berbagai wujud.

POHON dan ILALANG
Jadilah laksana pohon yang akarnya menghujam kuat ke tanah, batangnya kokoh berdiri menjulang ke angkasa, berbuah ranum dan rindang daunnya. Pohon tersebut, tidak akan mudah terguncang dan terombang-ambing. Lain halnya dengan ilalang, yang mengikut dengan setia ke manapun arah angin bergoyang. Jangankan harus dibebani buah, menopang dirinya sendiri saja ilalang ini tak mampu.
- Pohon itu merupakan gambaran dari keimanan yang kuat mengakar dalam hati sanubarinya, lalu ditopang kokoh oleh batang ketakwaan, yang berbuah amalan, sehingga membuat “teduh” orang yang berada di dekatnya.
- Ungkapan metaforis_personifikasi pohon dan ilalang ini juga menggambarkan bahwa hendaknya setiap wanita tidak selalu memasukkan dalam hati lalu mengikuti SEMUA perkataan orang. Orang berkata A, maka hatinya bimbang dan ingin mengikuti pendapat A. Orang berkata B, hatinya guncang dan ingin mengikuti B. Akan tetapi, ikutilah perkataan yang bersumber dari orang yang diliputi keilmuan, keimanan dan ketakwaan, sehingga menghasilkan “suara” yang penuh hikmah dan kebijaksanaan. Perhatikanlah, bahwa tidak semua kata orang patut kita dengar dan masukkan dalam hati. Tidak jadi soal, untuk “mencampakkan ke lantai” perkataan orang lain yang kurang atau tidak ada faidahnya.


CUEK dan SENSI
1. Adegan Sensi:
Level sensitivitas wanita cenderung lebih tinggi daripada pria. Sensitivitas ini diwujudkan baik dalam bentuk kehalusan perasaannya sehingga begitu mudah tersinggung dan menitikkan air mata, maupun menyatakan simpati dan empati terhadap berbagai rasa….baik suka maupun duka. Tidak mengherankan, karena memang emosi wanita mudah terpancing oleh suasana. Terang saja, bahkan dengan spesifikasi khas yang dimiliki wanita, itu akan menunjang wanita mengampu amanah alamiahnya kelak sebagai zaujah, murabbiyyah, dan “ummah” [ibu] sekaligus da’iyah. Sayangnya, level sensitivitas wanita seringkali menggiringnya terjerembab dalam bencana, yang sebenarnya bisa di hindari. Ya…bencana yang tidak langsung dia buat sendiri. Seringkali kita temukan, hanya karena perasaan wanita yang mudah tersinggung, mudah sekali baginya untuk marah; mencaci; berkata kasar, dan bertindak gegabah. Fenomena ini bukan saja terjadi pada orang awam, namun merambah juga pada tataran penuntut ilmu.

Sering kita saksikan, wanita penuntut ilmu yang karena tersulut emosinya, lalu berkata atau berbuat kasar bukan? Saksikan saja diorama singkatnya dalam Facebook ini. Terlebih jika wanita sedang bertarung lewat lisan, entah berupa debat kusir atau dalam berbalas cacian. Subhaanallaah…”ramai” sekali ya?! Memang membuat miris…Na’uudzubillaahi min dzaalik.

2. Adegan Cuek
Berkebalikan dengan kejadian di atas, seringpula kita dapatkan wanita yang begitu tidak peduli pada apapun, meskipun hal itu bermanfaat baginya. Dinasihati kebaikan…hanya masuk telingakiri, keluar telinga kanan. Berbuat hal yang memalukan…asyik-asyik saja seolah bebas dari kesalahan.
Sebenarnya, kedua hal ini sama-sama mengandung kebaikan, jika ditempatkan dengan benar dan proporsional. Terlalu sensitif juga tidak baik…pun terlalu cuek juga tidak baik. Ada saatnya kita harus menajamkan kepekaan, ada kalanya pula kita harus mempertebal ketidakpedulian. Kembalikanlah itu semua pada mizan syariat. Maka, akan kita dapatkan saat yang tepat untuk menerapkan prinsip kepekaan dan ketidakpedulian.


AKAL dan PERASAAN WANITA
Memang benar, pada umumnya wanita lebih cenderung mengedepankan perasaannya, yang membuat tumpul akal dan ilmunya…meskipun dari sisi intelektual, bisa jadi dia seorang wanita yang cerdas dan cemerlang otaknya. Maka, berusahalah berlatih untuk bersikap cerdas dan tepat sasaran dalam mengelola penggunaan pikiran dan perasaan. Bawaan umum alamiah yang sebagian besar ada pada wanita ini, jika tidak diposisikan pada tempatnya, justru akan berbalik menjadi bumerang baginya.
### Bagi lelaki: Oke, wanita memang memiliki bawaan alamiah yang demikian. Akan tetapi, tidak ada HAK bagi Anda sekalian untuk mencemooh, mencibir, menyudutkan, dan berkata kasar tentang kekurangannya ini. Jangan mentang-mentang Anda ini kaum yang lebih bisa mengedepankan akal, lalu merendahkan dan menginjak-injak wanita atas kekurangannya!
Contoh minimalisnya:
- Anda punya orangtua? Siapa yang menjadi perantara “nongol”nya Anda di dunia? Ibu. Apa jenis kelaminnya? Perempuan!

- Anda punya istri? Siapa yang berkhidmat bagi Anda, mengurusi Anda dan buah hati, bahkan membantu Anda menyalurkan hasrat biologis Anda? Apa jenis kelaminnya? Perempuan!
Itu hanya secuil peran kaum wanita dalam hidup Anda. Belum lagi peran wanita dalam bentuk putri, adik, bibi, tetangga, teman, guru dan lain sebagainya. Anda membutuhkan mereka bukan? Maka jangan sekali-kali Anda rendahkan kaum wanita! Tanpa wanita…hidup Anda tidak akan lengkap jadinya.

PEMAKLUMAN TERHADAP WANITA
Ada hal-hal yang bisa ditolerir atas kebengkokan sisi manusiawi wanita….hingga kita bisa berkata atau berkilah, “Yahh namanya juga wanita…meskipun penuntut ilmu, tetap saja dia wanita biasa..sosok yang penuh alpa, tidak terbebas dari cela, dan bisa melakukan dosa.” Akan tetapi, itu bukan dalih yang setiap kesempatan dan waktu dapat dilontarkan. Jangan mentang-mentang “bengkok”, lalu wanita berlindung dengan tameng kerapuhan dan kebengkokannya ini untuk bermudah-mudahan melakukan kekeliruan!
Syariat dibuat sebagai rambu-rambu pembatas agar kebengkokan wanita tidak menjerumuskan ke dalam dosa. Maka, letakkanlah perasaan dan manusiawi tersebut pada koridor syariat.
Contoh nyatanya dalam Facebook ini saja: Di dalam suatu forum…beberapa wanita sedang berdiskusi mengenai suatu perkara. Lalu terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dan suasanapun menjadi cukup panas. “Tor..torr..torrr”, emosi negatif beraksi dan reaksi petasan lisan pun dimulai. Si A menyulut, B meradang, C menanduk, D menyruduk dan seterusnya. Ujung-ujungnya terjadilah perang urat syaraf dan kebencian di antara mereka.

Bagaimana menyikapi aksi-reaksi berupa kebencian yang “manusiawi” ini? Kembalikanlah kepada neraca syariat, tentang bagaimana mengelola benci yang thabi’i dan benci yang syar’i. Memang benar, persengketaan secara naluriah membuahkan kebencian. Akan menjadi tidak benar jika kebencian itu melenceng dari pagar syariat yang berujung pada tindakan kezhaliman. Ya akhawaat….sesungguhnya shulh (perdamaian) karena Allah itu indah…
 




 

Sabtu, 26 April 2014

Kalau Kamu Kecewa, Aku Juga Kecewa, Tapi Beginilah Caraku…


Underground Tauhid–Kamu boleh jadi seperti aku. Nggak puas dengan keadaan. Keadaan yang tidak bersahabat dan tidak mendukung kehidupan kamu. Segala yang kamu lihat, kamu dengar, kamu baca, kamu tonton di TV dan engkau telusuri di dunia maya, mungkin hampir sebagian besarnya mengecewakan kamu.
Tapi aku selalu mengingatkan dan mengarahkan diriku sendiri dengan cara seperti ini.
“Wahaaai diri …. .
1. Pegang Teguhlah Kebenaran
Jika kamu dibuat muak dengan semua ketidakjujuran, dijijikkan oleh kebebasan hidup dan pergaulan yang semakin menginjak nginjak kehormatan tatakrama dan aturan, digeramkan oleh kedhaliman kekuasaan yang menjahatimu secara kejam, maka kamu akan semakin rindu pada KEBENARAN TUHAN mu, meyakininya, memeganginya secara teguh dan berjuang membela serta menegakkannya.
2. Perlengkapi Dirimu Sebanyak Mungkin dengan Ilmu dan Keahlian
Tetapi kamu akan insyaf, betapa butuhnya dirimu akan semua macam ilmu dan keahlian untuk bisa menegakkan kebenaran yang kamu yakini itu. Kamu butuh selalu bersemangat menghimpun semua yang bisa membuatmu kuat dalam segala sisi kehidupanmu.
3. Tingkatkanlah Kemampuan Bersaingmu.
Nggak ada yang bisa mereguk udara kebebasan dalam hidup ini dan terlepas dari persaingan. Baik persaingan itu sehat dan konstruktif maupun persaingan itu tidak sehat dan berdaya rusak. Kamu harus bisa sekuat tenaga meningkatkan kemampuan bersaingmu. Kamu tidak boleh cengeng, mengeluh dan mudah menyerah. Berusahalah untuk bisa survive bahkan unggul dalam bersaing.
4. Perbaiki dan Sempurnakan Kemampuanmu dalam Mengatur Sumber Dayamu.
Kunci untuk bisa tetap bertahan bahkan memenangkan persaingan adalah kemampuan mengatur dan mengelola diri. Mengatur dan mengelola agar semua sumberdaya yang kamu butuhkan untuk berjuang dalam persaingan itu selalu bisa tersedia semakin lengkap dari waktu ke waktu. Mengatur dan mengelola penggunaan sumberdaya itu sehingga bisa didayagunakan secara optimal dan membawa hasil hasil yang maksimal.
5. Teruslah Tingkatkan Daya Guna Hidupmu
Muara dari semua hal diatas adalah terciptanya kemampuan dan kesanggupanmu dalam memberi dayaguna dan manfaat besar bagi kemashlahatan kehidupan sesama….”
Entahlah apakah itu semua cocok untukmu. Yang jelas engkau tidak boleh menyerah dengan keadaan. Mari terus berjuang untuk menaklukkan dan mengarahkan keadaan ini.
Oleh: Akhmad Arqom
Sumber: akhmadarqom.com
Editor: Aik
sumber: http://undergroundtauhid.com/kalau-kamu-kecewa-aku-juga-kecewa-tapi-beginilah-caraku/ 

Kamis, 10 Oktober 2013

CATATAN TERAKHIR

CATATAN TERAKHIR
by: Thufail Al Ghifari


Terjagalah dari segala maksiat
Dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat
Disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa jiwa
Yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri
Ini bukan cerita Cinderela
Bukan juga patah arang cinta buta Siti Nurbaya
Tak dapat diukur tapi bersama Allah semua pasti akan teratur
Dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam
Bersemi dari pupuk akhlak yang hebat
Berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat

Tidak, ini takkan dimengerti oleh hati yang penuh dengan dusta
Yang buta oleh warna warni dunia yang fana
Ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya
Keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah
Dan menjadi manis seperti kurma di awal rembulan yang indah untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan
Dan hanya mau mencium atas dasar kemurnian kita berkata cinta
Karena bukan apa siapa dan bagaimana tapi luruskanlah dalam wangi Surga
Karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta

Hingga rambut kita memutih
Hingga ajal kan datang menjemput diri ini
Hingga rambut kita memutih
Hingga ajal kan datang menjemput diri ini

Inilah cinta sejati, cinta yang tak perlu kau tunggu
Tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh
Tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu
Petunjuk yang selalu datang dari ruang para malaikat
Yang sanggup melihat tak kenal pekat
Tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju
Takkan habis oleh waktu
Karena kecantikannya tersimpan dihati dalam pesona yang selalu menjaga jiwa
Yang menjadikan dunia menjadi Surga, sebelum Surga sebenarnya
Yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan sebenarnya

Seperti sungai yang mengalir bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair
Yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan
Untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan dan kelebihan sebagai kekuatan
Lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan
Dalam kesetiaan ruang kesolehan dan kasih sayang
Bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan
Para kesatria sastra jihad dan dakwah
Tercatat dalam untaian rahmat berakhir
Dalam catatan terakhir yang mulia
Digariskan hanya oleh ketetapan Alloh Subhanahu wata’ala

Hingga rambut kita memutih
Hingga ajal kan datang menjemput diri ini
Hingga rambut kita memutih
Hingga ajal kan datang menjemput diri ini

Minggu, 10 Februari 2013

(Muslim) Nasehat dari Luqman yang di abadikan dalam Al-Quran


Sahabat.....
Luqman adalah tokoh orang tua yang bijak dalam mendidik anak yang diabadikan dalam Al-Quran, ada beberapa Nasehat dari Lukman kepada anaknya yang bisa kita ambil sebagai pelajaran kepada anak-anak kita atau anak buah kita ( tentu saja redaksinya silahkan Anda rubah sesuai dengan kondisi ), nasehat-nasehat tersebut diantaranya :
1.       Anakku, jauhilah SYIRIK, karena itu akan mematikan hati menimbulkan MURKA Allah
2.       Anakku, janganlah berjalan di muka bumi dengan SOMBONG, karena itu akan menghancurkanmu
3.       Anakku , BERSYUKURLAH kepada Allah dan kepada kedua orang tuamu, karena Allah yang telah menciptakanmu dan orang tuamulah yang melahirkan, membesarkan dan mendidikmu.
4.        Anakku ketahuilah sesungguhnya DUNIA BAGAIKAN LAUT YANG DALAM , banyak yang karam kedalamnya bila engkau ingin selamat , agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakkal kepada Allah.
5.      Orang yang senantiasa MENYEDIAKAN DIRINYA untuk MENERIMA NASEHAT, maka dirinya akan mendapatkan penjagaan dari Allah. Orang yang insyaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia kan senantiasa menerima kemuliaan dari Allah juga.
6.      Orang yang MERASA DIRINYA HINA DAN RENDAH dalam beribadah dan taat kepada Allah, jadilah ia tawadhu kepada Allah , dia akan lebih dekat dengan Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada-Nya.
7.      Hai anakku; seandainya orang tuamu marah kapadamu karena kesalahanmu maka MARAHNYA ORANG TUA itu adalah bagaikan PUPUK bagi tanaman.
8.       JAUKANLAH dirimu dari BERHUTANG, karena berhutang itu menjadikan dirimu hina diwaktu siang dan gelisah diwaktu malam.
9.      Senantiasalah BERHARAP kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai Allah. Takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut, tentulah engkau akan lepas dari sifat keputusasaan dari Rahmat-Nya.
10.  Hai anakku ; seorang PENDUSTA akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercyai orang dan seorang yang telah bejat akhlaqnya akan senantiasa banyak melamunkan hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah , memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.
11.  Hai anakku ; engkau telah merasaan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi dari pada itu semua adalah bilamana engkau mempunya TETANGGA YANG JAHAT.
12.  Hai anakku ; janganlah sekali-kali engkau mengirimkan seseorang yang BODOH menjadi utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdas dan pintar, sebaiknya dirimu sendirilah yang menjadi utusan.
13.  JAUHILAH SIFAT DUSTA, sebab berdusta itu enak sekali mengerjakannya, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
14.  Hai anakku ; bila engkau menghadapi dua alternative taziyah orang mati ataukah menghadiri pesta perkimpoian maka hendaklah engkau memilih untuk MELAYAT ORANG MATI, sebab melayat orang mati itu akan mengingatkanmu pada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta perkimpoian itu akan mengingatkanmu kesenangan duniawi saja.
15.  Janganlah engkau makan sampai KENYANG YANG BERLEBIHAN, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baiknya bila diberikan kepada anjing saja.
16.  Hai anakku ; jangnlah kamu langsung menelan saja karena manisnya barang dan janganlah kamu langsung memuntahkan barang karena pahitnya. Karena YANG MANIS BELUM TENTU MENIMBULKAN KESEGARAN, dan YANG PAHIT ITU BELUM TENTU MENIMBULKAN KEGETIRAN.
17.  MAKANLAH makananmu bersama-sama dengan ORANG YANG TAQWA dan MUSYAWARAHKANLAH urusanmu dengan para ALIM ULAMA dengan cara memohon nasihat kepadanya.
18.  Hai anakku ; bukanlah suatu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencri ilmu namun engkau tidak mengamalkanya. Hal itu tak ubahnya bagaikan seorang yang mencari kayu bakar, banyak terkumpul maka ia tidak kuat memikulnya tetapi ia masih selalu menambahnya juga
19.  Hai anakku ; bila engkau ingin menemukan KAWAN SEJATI, maka ujilah dahulu dengan membuat dia MARAH bila dalam kemarahanya itu dia masih berusaha menginsyafkan atau menyadarkan kamu, maka bolehlah dia engkau ambil sebagai kawan. Bila tidak demikian maka berhati-hatilah engkau terhadapnya.
20.  Selalulah BAIK TUTUR KATAMU dan HALUS BUDI BAHASAMU serta MANIS WAJAHMU, karena engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang berharganya.
21.  Hai anakku ; bila engkau BERTEMAN, tempatkan dirimu padanya sebagai orang yang TIDAK MENGHARAPKAN SESUATU DARIPADANYA namun BIARKAN DIA YANG MENGHARAPKAN SESUATU DARIMU.
22.   Jadikanlah dirimu dalam segala perilakumu sebagai orang yang TIDAK INGIN MENERIMA PUJIAN atau orang yang mengharapkan sanjungan orang lain, karena motivasi riya/pamrih itu menimbulkan CELA dan MENGECEWAKAN DIRIMU.
23.  Hai anakku ; usahakanlah agar mulutmu jangan sampai mengeluarkan kat-kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan LEBIH SELAMAT BILA BERDIAM DIRI. Kalu berbicara usahakanlah agar bicaramu mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain.
24.  Hai anakku ; janganlah engkau CONDONG KEPADA URUSAN DUNIA dan hatimu selalu direpotkan dunia saja karena engkau diciptakan kedunia bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tak ada makhluk yang paling hina dari pada orang yang terpedaya oleh dunia.
25.  Hai anakku janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
26.  Barang siapa yang PENYAYANG AKAN DISAYANG, barang siapa pendiam tentu akan selamat dari berkata yang mengandung racun, dan barang siapa yang tidak bisa menahan lidahnya dari berkata kotor tentulah akan menyesal.
27.  Hai anakku ; BERGAULLAH RAPAT engkau dengan orang ULAMA dan ILMUWAN, perhatikan lah nasihat dan perkataanya karena sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur tersiram air hujan.
28.  Hai anakku ; AMBILLAH DUNIA SEKEDAR KEPERLUANMU, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Janganlah kau tendang dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya jangan engkau peluk dunia ini serta merengguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.


sumber: 
 http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=3317097